Niat Puasa Sunat Syawal dan Keutamaannya

by

gpuser

April 1, 2025

Puasa Sunat Syawal
Ilustrasi Puasa Sunat Syawal Foto: Pexels

Setelah melaksanakan puasa di bulan suci Ramadhan, umat Islam juga dapat berpuasa sunah di bulan Syawal. Puasa sunah syawal ini dapat dilaksanakan secara berturut-turut maupun secara terpisah.

Dalam sebuah hadis Nabi Saw bersabda bahwa puasa sunnah Syawal memiliki keutamaan.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya, “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim).

Dari Syaddad bin Aus dari Rasulullah bahwasanya beliau bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari Syawal setelah hari raya Idul Fithri, maka seperti telah berpuasa setahun penuh”

Keutamaan Puasa Bulan Syawal

Hadits Tsauban Maula Rasulullah: Dari Tsauban,   bahwasanya Nabi bersabda “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fithri, maka seperti telah berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh

Dari Abu Hurairah a berkata: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari Syawal, maka seperti telah berpuasa setahun penuh”

Niat puasa sunnah Syawal

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah.”

HARUSKAH BERTURUT-TURUT SETELAH IDUL FITHRI?

Ketahuilah bahwa para ulama sepakat pahala puasa ini bisa didapatkan bagi orang yang berpuasa secara berpisah atau berturut-turut, dan bagi yang berpuasa langsung setelah hari raya
atau di tengah-tengah bulan.

Namun para ulama berselisih pendapat tentang puasa Syawal langsung setelah id menjadi dua pendapat:

1. Afdhalnya setelah fithri langsung. Ini madzhab Hanafiyyah, Syafi’iiyah dan Hanabilah.

An-Nawawi berkata: “Afdhalnya, berpuasa enam hari berturut turut langsung setelah Idhul Fithri. Namun jika seseorang berpuasa Syawal tersebut dengan tidak berturut-turut atau berpuasa di akhir-akhir bulan, dia masih
mendapatkan keutamaan puasa Syawal, berdasarkan konteks hadits ini.”Yakni keumuman sabda Nabi “enam hari bulan Syawal”.

2. Dibenci setelah Id langsung, alasannya masih suasana lebaran, dan agar tidak melekat dengan Id, bersenang-senang dengan nuansa idul fithri, dan menghormati tamu.

Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama. Jadi, hukum asalanya yang lebih utama adalah
bersegera melakukan puasa Syawal karena beberapa sebab:

Pertama: Bersegera dalam beramal shalih
Kedua: Agar tidak terhambat oleh halangan dan godaan syetan sehingga menjadikannya tidak berpuasa
Ketiga: Manusia tidak tahu kapan malaikat maut menjemputnya.

Baca juga: Kisah Thariq bin Ziyad Sang Penakluk Andalusia

 


Sumber:

  1. 10 Masalah Fiqih Puasa Syawal (Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi)