Insan Mulia, Tempaan Ramadan

by

gpuser

March 30, 2025

Masjid Al-Munawwarah, Jantho

Ramadan 1446 H kini bersiap meninggalkan kita. Tak ada yang mampu menahannya agar bertahan lebih lama.

Selama 30 hari, kita telah berada di madrasah Ramadan—bulan penuh berkah, tarbiyah, dan kemuliaan. Di dalamnya, kita melaksanakan berbagai amal shalih, terutama ibadah puasa sebagai amalan utama. Selama sebulan penuh, kita ditempa dan dididik menjadi insan yang lebih bertakwa, taat kepada Allah SWT, serta membentuk kesalehan pribadi dan sosial.

Berada di penghujung Ramadan adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri. Ini menandakan bahwa kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan meraih keberkahan Ramadan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang berhasil mengenyam pendidikan di universitas Ramadan dan meraih predikat takwa sebagaimana yang dijanjikan Allah.

Saat Ramadan berakhir, harapannya kita telah menuntaskan program dan target yang kita rencanakan sejak awal.

Perpisahan dengan Ramadan seharusnya diiringi dengan penghormatan yang layak, yaitu dengan tetap menjalankan amal saleh, berbuat baik kepada sesama, serta memperbanyak istighfar dan doa.

Lebih dari itu, kita harus memiliki tekad kuat untuk tetap istiqamah dalam menjalankan amal shalih setelah Ramadan berlalu. Hari-hari indah bersama Al-Qur’an, kebiasaan berbuat baik, kedekatan dengan masjid, dan akhlak yang terjaga tidak boleh pudar.

Ramadan telah membuktikan bahwa kita mampu menahan hawa nafsu, mengendalikan diri dari sifat serakah, menahan lapar, serta menjaga anggota tubuh dari perbuatan yang diharamkan. Kita juga mampu menghidupkan amalan sunah seperti salat malam, dhuha, sedekah, dan berbagai amal baik lainnya.

Setelah ditempa oleh madrasah Ramadan, sejatinya hati kita telah dibersihkan dari berbagai penyakitnya. Kita semakin terbiasa dalam ketaatan dan kebaikan, serta memiliki keimanan yang lebih kokoh.

Kini, saatnya Ramadan benar-benar pergi, gema takbir mulai menggema di langit. Ramadan berlalu meninggalkan kita dengan perasaan campur aduk: sedih, cemas, sekaligus bahagia. Mungkin Ramadan akan kembali tahun depan, tetapi belum tentu kita diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengannya. Bisa jadi, ini adalah Ramadan terakhir kita.

Maka, kita berdoa agar Allah SWT menerima amal ibadah kita dan mengizinkan kita kembali merasakan keberkahan Ramadan yang akan datang.

Setiap perpisahan menyisakan kesedihan, terlebih perpisahan dengan bulan yang penuh ampunan dan pelipatgandaan pahala. Kita juga cemas dan bertanya-tanya: apakah amalan kita selama Ramadan diterima? Apakah kita telah mendapatkan ampunan Allah? Semoga Allah menerima ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta meninggikan derajat kita di sisi-Nya.

Namun, kesedihan tak boleh berlarut. Kini saatnya kita berbahagia karena telah menyelesaikan madrasah Ramadan dan semoga menjadi insan muttaqin. Kita telah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, melewati berbagai ujian, cobaan, dan godaan, hingga kembali ke fitrah.

Kini, saatnya merayakan kemenangan. Idul Fitri adalah momen untuk mengagungkan kebesaran Allah SWT dengan takbir, tahmid, dan tahlil, bukan dengan petasan yang mengganggu atau pesta kemaksiatan. Hendaknya kita tetap menghiasi malam Idul Fitri dengan qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, zikir, dan selawat.

Ramadan telah pergi, kini saatnya kita menjaga kesucian diri. Semoga kita tetap menjadi hamba yang taat di luar Ramadan. []

 

Penulis: Muhammad Nasril